BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dinasti
Umayyah yang berpusat di Damaskus mulai terbentuk sejak terjadinya peristiwa tahkim
pada Perang Siffin. Perang yang dimaksudkan untuk menuntut balas atas
kematian Khalifah Utsman bin Affan itu, semula akan dimenangkan oleh pihak Ali,
tetapi melihat gelagat kekalahan itu, Muawiyah segera mengajukan usul kepada
pihak Ali untuk kembali kepada hukum Allah.
Dalam
peristiwa tahkim itu, Ali telah terperdaya oleh taktik dan siasat
Muawiyah yang pada akhirnya ia mengalami kekalahan secara politis. Sementara
itu, Muawiyah mendapat kesempatan untuk mengangkat dirinya sebagai khalifah,
sekaligus raja.[1]
Peristiwa
ini di masa kemudian menjadi awal munculnya pemahaman yang beragam dalam
masalah teologi, termasuk tiga kekuatan kelompok yang sudah mulai muncul sejak
akhir pemerintahan Ali yaitu Syiah, Muawiyah itu sendiri dan Khawarij.
Dinasti
Umayyah selalu dibedakan menjadi dua dua: Pertama, Dinasti Umayyah yang
dirintis dan didirikan oleh Mu’awiyah Ibn Abi Sufyan yang berpusat di Damaskus
(Syiria). Fase ini berlangsung sekitar 1 abad (sekitar 90 tahun) dan mengubah
sistem pemerintahan dari sistem khilafah kepada sistem mamlakat (kerajaan atau
monarki); Kedua, Dinasti Umayyah di Andalusia (Spanyol) yang pada
awalnya merupakan wilayah taklukan Umayyah yang dipimpin oleh Gubernur pada
zaman Walid Ibn Abd Al Malik, kemudian di ubah menjadi kerajaan yang terpisah
dari kekuasaan Dinasti Bani Abbas setelah berhasil menaklukan Bani Umayah di
Damaskus.[2]
B. Metode
Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode
penelitian deskriptif dengan menggunakan kualitatif untuk menjelaskan tentang
Islam pada masa Bani Umayyah.
C. Rumusan
Masalah
Dari
Uraian diatas penyusun memaparkan beberapa rumusan masalah, sebagai berikut:
1.
Bagaimana
Sejarah Bani umayyah?
2.
Siapa-siapa
saja Khalifah-khalifah Bani Umayyah?
3.
Bagaimana
bentuk Kejayaan dan Keberhasilan Bani Umayyah?
4.
Apa sebab-sebab kehancuran dinasti Bani umayyah?
5. Apa saja Keutamaan Bani Umayyah Yang Dilupakan Sebagai Sejarawan?
D.
Tujuan
Penulisan
1.
Mengetahui
sejarah Bani umayyah
2.
Mengetahui
Khalifah-khalifah Bani Umayyah
3.
Mengetahui
Kejayaan dan Keberhasilan Bani Umayyah
4.
Mengetahui sebab-sebab kehancuran
dinasti Bani umayyah?
5.
Mengetahui Keutamaan Bani
Umayyah Yang Dilupakan Sebagai Sejarawan?
[1] Taufik Rachman
, Jurnal Sejarah Peradaban Islam, h.
86
[2] Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam. (Bandung: Bani
Quraisy.2005), h. 95.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Bani Umayyah
Pemerintahan Bani Umayyah dinisbatkan
kepada Umayyah bin Abd Syams bin Abdi
Manaf. Dia adalah seorang tokoh penting di tengah Quraisy pada masa jahiliah.
Dia dan pamannya Hasyim bin Abdu Manaf
selalu bertarung dalam memperebutkan kekuasaan dan kedudukan.
Setelah islam datang, pertarungan
menduduki kekuasaan ini menjelma menjadi sebuah permusuhan yang transparan dan
terbuka. Bani Umayyah melakukan perlawanan terhadap Rasulullah dan dakwahnya.
Sedangkan, Bani hasyim mendukung rasulullah dan mengikutinya. Bani Umayyah
tidak masuk Islam kecuali setelah tidak ada jalan lain kecuali mereka harus
masuk Islam. ini terjadi setelah penaklukan kota Mekah.[3]
Dinasti
Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb. Muawiyah disamping
sebagai pendiri daulah Bani Abbasiyah juga sekaligus menjadi khalifah pertama.
Ia memindahkan ibukota kekuasaan Islam dari Kufah ke Damaskus.
Muawiyah
dipandang sebagai pembangun dinasti yang oleh sebagian besar sejarawan awalnya dipandang
negatif. Keberhasilannya memperoleh legalitas atas kekuasaannya dalam perang
saudara di Shiffin dicapai melalui cara yang curang. Muawiyah juga dituduh
sebagai pengkhianat prinsip-prinsip demokrasi yang diajarkan Islam karena
dialah mula-mula mengubah pimpinan Negara dari seorang yang dipilih oleh rakyat
menjadi kekuasaan raja yang diwariskan turun-temurun.[4]
Distorsi Sejarah Bani
Umayyah
Sejarah Bani Umayyah banyak mengalami
distorsi yang dilakukan oleh pemerintahan Bani Abbas, musuh politik Bani Umayyah, dimana sejarah Islam mulai
ditulis sejak masa pemerintahan mereka. Distorsi ini juga dilakukan oleh
kalangan syiah dan khawarij, musuh tradisional mereka. Juga dari kalangan awam
yang menceritakan sejarah melalui cara oral. Sehingga pemerintahan Bani Umayyah
harus mengalami banyak tuduhan dan tudingan dalam berbagai bentuknya.
a. Perhatian
pada sisi sejarah yang merendahkan posisi dan kapabilitas mereka.
b. Mereka
banyak menonjolkan tragedi yang terjadi pada masa pemerintahan Bani Umawiyah.
c. Mefokuskan
pandangannya hanya pada kelemahan sisi manusiawi diantara mereka dan
meninggalkan semua sisi yang baik.
d. Ditebarkannya
isu-isu beracun terhadap sebagian khalifah seperti Yazid bin Mu’awiyah dan
Walid bin Yazid.[5]
[5] Ahmad al-Usairy, Sejarah Islam, h.181-183
Bani Umayyah di Masa Pra-Islam dan Masa Rasul Saw
Di masa pra-Islam, sebagai suku Quraisy, Bani Umayyah dan Bani
Hasyim selalu bersaing untuk menduduki kursi pimpinan. Bani Umayyah lebih
berperan dalam bidang pemerintahan dan perdagangan, dengan demikian mereka
lebih banyak menguasai bidang perekonomian di banding Bani Hasyim, sementara
Bani Hasyim adalah orang-orang yang berekonomi sederhana, akan tetapi
kebanggaan Bani Hasyim adalah bahwa Rasul terakhir yang diutus Allah SWT.
adalah dari keturunan mereka, yakni Muhammad bin Abdillah bin 'Abd
al-Muththalib.
Ketika agama Islam mulai
berkembang dan mendapatkan pengikut, Bani Umayyah merasa bahwa kekuasaan dan perekonomiannya
terancam, dengan demikian. Bani Umayyah menjadi penentang utama terhadap
perjuangan Muhammad SAW (Bani Hasyim). Abu Sufyan bin Harb adalah salah seorang
keturunan Umayyah yang sering kali menjadi jenderal dalam beberapa peperangan
melawan pihak Bani Hasyim. Setelah Islam menjadi kuat dan dapat
merebut Mekah, pihak Abu Sufyan menyerah, di antara mereka adalah Muawiyah bin
Abu Sufyan, yang kemudian memeluk Islam sebagaimana penduduk Mekah lainnya.[6]
B.
Sekilas Tentang
Khalifah-khalifah Bani Umayyah
Pemerintahan ini berakhir dengan kekalahan khalifah Marwan bin Muhammad diperang Zab pada bulan
Jumadil Ula tahun 132 H / 661 M. Pemerintahan Bani Umayyah ini berlangsung
selama 91 tahun (41 H/ 661 M – 132 H/ 749 M). Yang di kuasai oleh dua keluarga
dan diperintah oleh 14 khalifah dengan
Damaskus sebagai ibukotanya.[7]
[6] Taufik Rachman, h. 88
[7] Al-Usairy, Sejarah Islam, h. 184
1. Muawiyah
bin Abi Sufyan (41-60 H/661-679 M)
Pengalaman politik
Muawiyah bin Abi Sufyan telah memperkaya dirinya dengan kebijakan-kebijakan
dalam memerintah, mulai dari menjadi salah seorang pemimpin pasukan di bawah komando
Panglima Abu Ubaidillah bin Jarrah yang berhasil merebut wilayah Palestina,
Suriah dan Mesir dari tangan Imperium romawi. Kemudian Muawiyah menjabat
sebagai kepala wilayah di Syam yang membawahi Suriah dan Palestina. Khalifah
Utsman menobatkannya sebagai “Amir Al-Bahr” yang memimpin penyerbuan ke
kota Konstantinopel meski belum berhasil.[8]
Memasuki masa kekuasaan Muawiyah yang menjadi awal kekuasaan Bani
Umayyah. pemerintahan yang demokratis berubah menjadi
monarchiheridetis (kerajaan turun temurun), kekhalifahan Muawiyah
diperoleh melalui kekerasan, diplomasi, dan tipu daya tidak dengan pemilihan
atau suara terbanyak. Sistem pemerintahan ini diadopsi dari Persia dan
Bizantium. Langkah awal yang diambil dalam menggunakan sistem pemerintahan
tersebut yakni dengan mengangkat Yazid putranya sebagai putra mahkota.[9]
Kekuasaan Bani Umayyah
berumur kurang lebih 90 tahun. Ibu kota Negara dipindahkan dari Madinah ke
Damaskus. Ekspensi yang terhenti pada masa khalifah Usman dan Ali dilanjutkan
kembali oleh dinasti ini. Di zaman Muawiyah, Tusinia dapat ditaklukan. Di
sebelah Timur, Muawiyah dapat menguasai daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus
dan Afganistan sampai ke Kabul.[10]Disamping
itu Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan berbagai bidang. Selain
itu Muawiyah juga mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan
menyediakan kuda yang lengkap serta peralatannya disepanjang jalan. Dia juga
berusaha menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang.[11]
Muawiyah meni 60 H/679 M. setelah memerintah selama 20 tahunnggal
pada tahun. Dia adalah orang pertama yang membangun kantor-kantor pos di dalam
Islam dan membuat stempel[12].
[8] Munir, Sejarah Peradaban
Islam, h. 119.
[9] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta:
Rajawali Press, 2000), h. 42.
[10] Ibid,, h. 43
[11] h. 44
[12] Al-Usairy, Sejarah Islam, h. 191
2.
Yazid bin Muawiyah (60-64 H/ 679-683 M)
Pengangkatan Yazid sebagai khalifah diikuti oleh penolakan dari
kaum Syiah yang telah membaiat Husain bin Ali di Kufah sebagai khalifah
sepeninggal Muawiyah. Penolakan tersebut, mengakibatkan peperangan di Karbala
yang menyebabkan terbunuhnya Husain bin Ali. Selain itu Yazid juga menghadapi
pemberontakan di Makkah dan Madinah dengan keras. Kaum anshor di Madinah
mengangkat Abdullah bin Hanzalah dan kaum Qurais mengangkat Abdullah bin Muti’,
dan penduduk Mekkah mengangkat Abdullah bin Zubair sebagai pemimpin tanpa
pengakuan terhadap kepemimpinan Yazid. Yazid wafat pada tahun 64 H setelah
memerintah selama 4 tahun.[13]
3.
Muawiyah bin Yazid (64 H/ 683 M)
Muawiyah bin Yazid merupakan putra Yazid
bin Muawiyah, dan ia menggantikan tampuk kepemimpinan sepeninggal ayahnya.
Namun ia hanya memegang jabatan khalifah hanya dalam beberapa bulan dan kemudian
dia meninggal karena sakit dan fisiknya lemah. Dengan wafatnya Muawiyah bin
Yazid maka habislah keturunan Muawiyah.
4.
Marwan
bin Hakam (64-65 H/ 683-684 M)
Marwan bin Hakam pada masa Utsman bin Affan, seorang pemegang
stempel khalifah, pada masa Muawiyah bin Abi Sufyan ia adalah gubernur Madinah
dan menjadi penasihat pada masa Yazid bin Muawiyah di Damaskus. Muawiyah II
tidak menunjuk penggantinya sebagai khalifah kemudian keluarga besar Bani
Umayyah menunjuknya sebagai khalifah, sebab ia dianggagp paling depan
mengendalikan kekuasaan dengan pengalamannya. Marwan menghadapi segala
kesulitan satu persatu kemudian ia dapat menduduki Mesir, Palestina dan Hijaz
dan Irak. Namun kepemimpinannya tidak berlangsung lama hanya 1 tahun, sebelum
ia wafat menunjuk Abdul Malik dan Abdul Aziz sebagai pengganti sepeninggalnya
secara berurutan.
5. Abdul
Malik bin Marwan (65-86 H/ 684- 705 M)
Ia merupakan orang kedua yang terbesar dalam deretan
para khalifah Bani Umayyah sehingga ia disebut-sebut sebagai “pendiri kedua”
bagi kedaulatan Umayyah. Pada masa kepemimpinannya ia mampu mengembalikan
sepenuhnya integritas wilayah dan wibawa kekuasan Bani Umayyah dengan dapat
ditundukkannya gerakan separatis Abdullah bin Zubair di Hijjaz, pemberontakan
kaum Syi’ah dan Khawarij, aksi teror al-Mukhtar bin Ubaid As- Saqafi di Kufah,
pemberontakan Mus’ab bin Zubair di Irak, serta Romawi yang menggoncangkan
sendi-sendi pemerintahan Umayyah.
6. Al-Walid
bin Abdul Malik (86-96 H/ 705- 714 M)
Pada masa kekuasaaanya Islam melangkah
ke Spanyol dibawah kepemimpinan pasukan Thariq bin Ziyad ketika Afrika Utara
dipegang oleh gubernur Musa bin Nusair. Walid bin Abdullah ini mempunyai kekayaan
yang melimpah ruah maka ia menyempurnakan pembangunan gedung-gedung,
pabrik-pabrik, dan jalan-jalan dengan sumur. Ia membangun masjid Al-Amawi yang
terkenal hingga masa kini di Damaskus. Di samping itu, dia juga melakukan
penyantunan kepada para yatim piatu, fakir miskin, dan penderita cacat seperti
orang lumpuh, buta, dan sakit kusta.
7.
Sulaiman
bin Abdul Malik (96-99 H/714-717 M)
Khalifah sulaiman bin abdul malik dibenci oleh rakyatnya karena
tabiatnya yang kurang bijaksana itu. Para pejabatnya terpecah-belah, demikian
pulamasyarakatnya. Orang-orang yang berjasa dimasa para pendahulunya
disiksanya, seperti keluarga Hajjaj bin Yusuf dan Muhammad bin Qasim yang
menundukkan India. Dia menunjuk Umar bin Abdul Aziz sebagai penggantinya
sebelum dia meninggal pada tahun 99 H.
8.
Umar bin Abdul Aziz (99-101 H)/ 717-719 M)
Umar bin Abdul Aziz disebut-sebut sebagai khalifah
ketiga yang besar dalam dinasti Bani Umayyah. Ia seorang yang takwa dan bersih
serta adil. Ia banyak menghabiskan waktunya di Madinah dikota dimana ia menjadi
gubernur pada masa al-Walid, untuk mendalami ilmu agama Islam, khususnya
hadits. Sebelumnya ia merupakan pejabat yang kaya akan ilmu dan harta namun
ketika menjadi khalifah ia berubah menjadi orang yang zahid, sederhana, bekerja
keras, dan berjuang tanpa henti sampai akhir hayatnya. Ia bahkan mengembalikan
sebagian besar hartanya berupa tanah dan perhiasan istrinya ke baitul-mal.[14]
9. Yazid
bin Abdul Malik (101-105 H/ 719-723 M)
Sikap kepemimpinannya sangat bertolak dengan pola kepemimpinan
Umar bin Adul Aziz, terutama dalam politiknya. Ia lebih menyukai berfoya-foya
sehingga ia dianggap tidak serius dalam kepemimpinannya.[15]
10. Hisyam bin Abdul
Malik (105- 125 H/ 723-742 M)
Setelah
meninggalnya Yazid, saudaranya Hiyam bin Abdul Malik naik tahta. Pada saat ia
naik tahta. Pada masa kepemimpinannya terjadi perselisihan antara bani Umayyah
dengan bani Hasyim. Pemerintahannya yang lunak dan jujur, banyak jasanya dalm
pemulihan keamanan dan kemakmuran, tetapi semua kebijakannya tidak dapat
membayar kesalahan-kesalahan para pendahulunya. Inilah yang semakin memperlicin
kemerosotan dinasti Umayyah. Hisyam adalah seorang penyokong kesenian dan
sastra yang tekun. Kecintaannya kepada ilmu pengetahuan membuat ia meletakkan
perhatian besar kepada pengembangan ilmu pengetahun.
11. Al-Walid
bin Yazid (125-126 H/ 742- 743M)
Walid oleh para penulis Arab dilukiskan
sebagai orang yang tidak bermoral, pemabuk, dan pelanggar. Pada awal mulanya ia
menunjukkan kebaikan-kebaikan kepada fakir miskin dan orang-orang lemah. Namun
semua itu digugurkan dengan sifatnya yang pendendam, serta jahat kepada sanak
saudaranya. Sikapnya ini semakin mempertajam kemerosotan bani Umayah.[16]
12. Yazid bin Walid bin Abdul Malik (126
H/743 M)
Masa pemerintahannya sangat pendek dan penuh dengan gejolak. Dia
sama sekali tidak menikmati masa kekuasaannya walau hanya sehari. Gejolak dan
pemberontakan muncul dimana-mana. Dia meninggal akibat penyakit tha’un pada
tahun 126 H/ 743 M. Setelah memerintah selama 6 bulan.
13. Ibrahim bin Walid bin
Abdul Malik (126- 127 H/ 743- 744 M)
Dia menjadi khalifah setelah kakaknya Yazid. Dan pemerintahannya
hanya berumur 70 hari saja.
14. Marwan bin Muhammad
(127-132 H/ 744-750 M)
Masa pemerintahannya ditandai dengan
konflik dan instabilitas hingga akhirnya pemerintahannya jatuh dan runtuh.[17]
[13]Munir, Sejarah
Peradaban Islam, h. 123
[15] al-Isy, Dinasti Muawiyah, (Jakarta: Pustaka
Al-Kausar:2009), h. 346
[16] Taufik Rachman, h. 92-93
[17] Al-usairy, Sejarah Islam, h. 210-211
C.
Kejayaan dan
Keberhasilan Bani Umayyah
Pada masa Bani Umayyah berkuasa, harus
diakui banyak sekali keberhasilan yang di capai, jika dapat diklasifikan, maka
yang paling utama dapat dilihat dari 2 aspek, yaitu: (1) Wilayah kekuasaan dan
Perpolitikan dan (2) Perkembangan Keilmuan, berikut diantaranya:
1. Ekspansi (perluasan wilayah/daerah
kekuasaan) secara besar-besaran. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika
Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arabia, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia,
Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Purkmenia, Uzbek, dan Kirgis
di Asia Tengah.
2. Muawiyah banyak berjasa dalam
pembangunan di berbagai bidang.
3. Mendirikan dinas pos dan tempat-tempat
tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang
jalan.
4. Dia juga berusaha menertibkan angkatan
bersenjata dan mencetak mata uang. Pada masanya, jabatan khusus seorang hakim (qadhi)
mulai berkembang menjadi profesi tersendiri, Qadhi adalah seorang spesialis
dibidangnya.
5. Abd al-Malik mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai
di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu, dia mencetak uang tersendiri
pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab.
6. Khalifah Abd al-Malik juga berhasil melakukan
pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan dan memberlakukan Bahasa Arab
sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam.
7. Dia juga membangun jalan jalan raya yang menghubungkan suatu
daerah dengan daerah lainnya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan dan
mesjid-mesjid yang megah.[18]
8. Pada aspek politik, Bani Umayyah menyusun tata pemerintahan untuk
memenuhi tuntutan perkembangan wilayah dan administrasi negara yang lebih
teratur. Selain mengangkat Penasihat sebagai pendamping, Khalifah Bani Umayyah juga
di bantu oleh beberapa sekretaris dibidangnya.
9. Perkembangan Keilmuan. Pada masa pemerintahan dinasti umayyah,
kota Makkah dan Madinah menjadi tempat berkembangnya musik, lagu dan puisi.
Sementara di Irak (Bashrah dan Kufah) berkembang menjadi pusat aktivitas
intelektual di dunia Islam. Sedangkan di Marbad, kota satelit di Damaskus,
berkumpul para pujangga, filsuf, ulama, dan cendikiawan lainnya. Beberapa ilmu
yang berkembang pesat seperti : Pengembangan Bahasa Arab, ilmu Qiraat yaitu
Ilmu seni membaca al-Quran, ilmu Tafsir ,ilmu Hadits, ilmu Fiqh, ilmu Nahwu,
ilmu Geografi dan Tarikh dan Usaha Penterjemahan yaitu buku-buku yang
diterjemahkan pada masa ini meliputi buku-buku tentang ilmu kimia, ilmu
astronomi, ilmu falak, ilmu fisika, ilmu kedokteran, dan lain-lain.
10. Seni dan Budaya. Pada masa bani Umayah ini berkembang seni
Arsitektur terutama setelah ditaklukkananya spanyol oleh Thariq bin Ziyat.
Ekspresi seni ini diwujudkan pada bangunan-bangunan masjid yang didirikan mada
masa ini. Arsitektur bangunannya memadukan antara budaya Islam dengan budaya sekitar.[19]
D.
Faktor-faktor
Kehancuran Dinasti Bani Umayyah
Ada beberapa faktor
yang menyebabkan dinasti bani umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran.
Faktor-faktor itu, antara lain adalah:
1. Sistem
pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi
tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas.
Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan
yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana.
2. Latar
belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari
konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali sisa-sisa Syiah (para pengikut
Ali) dan khawarij terus menjadi gerakan
oposisi, baik secara terbuka, seperti dimasa awal dan akhir maupun secara tersembunyi
seperti dimasa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah.
3. Pada
masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentanga etnis antara suku Arabia Utara (Bani
Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam
makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah
mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan.
4. Lemahnya
pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah
dilingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban
berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan.
5. Penyebab
langsung tergulingnya kekuasaan dinasti Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan
baru yang dipelopori oleh keturunan Al-Abbas ibn Abd Al-Muthalib. Gerakan ini
mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syiah dan kaum Mawali
yang merasa dikelasduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.[20]
E.
Keutamaan Bani Umayyah Yang Dilupakan Sebagai Sejarawan
1. Muawiyah adalah seorang sahabat yang mulia walaupun dia melakukan
sebuah ijtihat politik dalam melakukan perlawanan kepada Khalifah Ali bin Abit
Thalib dan ternyata ijtihat yang dia lakukan tidak benar. Namun demikian dia
tetap berlaku adil dan semua sahabat adalah adil.
2. Bani Umayyah selalu menghormati kalangan berilmu dan orang-orang
yang memiliki sifat-sifat utama. Mereka tidak pernah melakukan intervensi dalam
hal-hal yang menyangkut peradilan.
3. Ditangan mereka banyak negeri yang ditaklukan hingga sampai ke
wilayah cina disebelah timur, negeri-negeri di Andalusia (Spanyol) dan selatan
Perancis disebelah barat. Pada masanya pemerintahan Islam mencapai wilayah yang
sangat luas sepanjang sejarah Islam.
4. Masa pemerintahan mereka memiliki keistimewaan dengan
memproduksikan tanah-tanah mati, pembangunan-pembangunan kota, dan pembangunan
yang megah.[21]
[20] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2000), h. 48-49
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Jika
bicara tentang Bani Umayyah, tentu tidak bisa terlepas dari 3 hal yang sangat
fundamental yaitu sejarah terbentuknya, kemajuan yang di capai dan fase
kemundurannya. Tidak bisa dipungkiri, Dinasti Bani Umayyah telah banyak memberi
warna baru dalam sejarah peradaban Islam seperti yang paling mendasar adalah
mengubah sistem pemerintahan Islam dari sistem musyawarah mufakat kepada sistem
monarki absolut.
Ada minimal 4 khalifah yang cukup menonjol selama pemerintahan
bani umayyah berlangsung yaitu pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sofyan
(41-60 H) yang di antara keberhasilan paling menonjol adalah mengubah sistem
pemerintahan Islam dari sistem musyawarah mufakat kepada sistem monarki absolut
atau berdasarkan keturunan.
Selanjutnya adalah Abd Malik bin Marwan (65-86 H), di antara
keberhasilannya paling bermanfaat adalah mencetak uang logam pertama yang
berbentuk emas dan perak yang berulis huruf arab untuk menggantikan mata uang
bizantium dan menetapkan Jerussalem sebagai kota suci umat Islam.
Al Walid bin Abd Malik (86-96 H) juga turut berkontribusi besar
seperti membangun masji Al-Amawi di Damaskus serta memperluas masjid nabawi di
Madinah, termasuk banyak menyempurnakan pembangunan gedung-gedung di masa
pemerintahannya.
Tentu saja ada Umar Bin Abd Azis (99-101H) yang juga di sebut
sebagai khalifah ke 3 terbesar dari Bani Umayyah yang salah satu kontribusi
utamanya adalah mempersatukan perpecahan yang muncul secara berlarut-larut
antara bangsa Arab dan non-arab.
Salah satu penyebab utama dari sekian banyak penyebab runtuhnya
kedaulatan Bani Umayyah adalah terlalu berlarut-larut dalam kemewahan pada saat
menjadi penguasa, sehingga mereka lupa untuk mempersiapkan keturunan sebagai
generasi penerus kekuasaan. Hal ini cukup terlihat dari hanya sedikit dari
penerus kerajaan yang bisa menjalankan fungsinya sebagai khalifah dengan
maksimal, hanya minimal 4 khalifah yang tercatat cukup berhasil dan terasa dampaknya
selama memerintah rakyatnya. Dengan meninggalnya Marwan dan munculnya kekuatan
baru yang dipelopori oleh keturunan Al-abbas bin abdil Muthalib, maka berakhir
lah dinasi Bani Umayyah dan digantikan Bani Abbasiyah.
DAFTAR
PUSTAKA
Ali, K. 2000. Sejarah Islam. Jakarta: Pt Raja Grafindo Persada
Al-Isy,
Yusuf. 2009. Dinasti Umawiyah. Jakarta : Pustaka Al-Kausar
Al-Usairy,
Ahmad. 2004. Sejarah Islam. Akbar
Media Eka Sarana
Mubarok, Jaih.
2005 Sejarah Peradaban Islam. Bandung:
Bani Quraisy
Munir Amin, Samsul.
2009. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah
Rachman, Taufik. 2018.
Jurnal Sejarah
Peradaban Islam. Vol. 2 No. 1
Yatim, Badri.
2000. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta:
Rajawali Press
[1] Taufik Rachman
, Jurnal Sejarah Peradaban Islam, h.
86
[3] Ahmad al-Usairy, Sejarah Islam, (Akbar Media Eka
Sarana:2004), h. 181-183
[6] Taufik Rachman, h. 88
[7] Al-Usairy, Sejarah Islam, h. 184
[8] Munir, Sejarah Peradaban
Islam, h. 119.
[9] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta:
Rajawali Press, 2000), h. 42.
[10] Ibid,, h. 43
[11] h. 44
[13]Munir, Sejarah
Peradaban Islam, h. 123
[14] Taufik Rachman, h. 91-92
[17] Al-usairy, Sejarah Islam, h. 210-211
[18] Taufik Rachman, h. 93-94
[20] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajawali
Press, 2000), h. 48-49
Komentar
Posting Komentar